Seni Budaya Sang Petualang Dan Petarung Dari Timur “Sigajang Laleng Lipa”

Penulis : Ir.H.R.Hidayat M.HS
Penulis : Ketua DPD I Poknas Propinsi Banten

Tangerang Selatan – viralreporter5.com – Kebhinekaan budaya Nusantara di Indonesia  ini sangat besar dan memiliki kekayaan budaya serta aneka ragam seni tradisi dalam menunjukkan eksistensinya di Negara Republik Indonesia ini.

Salah satu suku yang memiliki seni dan tradisi itu adalah Suku  Bugis dan Makassar yang sebagian besar terletak di Sulawesi Selatan yang memiliki keunikan tersendiri dalam adat istiadat dan budayanya.

Masyarakat Bugis dan Makassar memiliki seorang pendeta suci bernama Bissu. Dia adalah seseorang yang tidak bisa dikategorikan pria atau wanita namun berperan besar sebagai perantara antara Manusia dan Dewa.

Selain Bissu, masyarakat Bugis juga memiliki karya sastra kuno terpanjang di dunia bernama Galigo. Epik La Galigo adalah karya sastra terbaik dari Bugis yang menceritakan banyak hal selayaknya Serat Centini dari Jawa. Terakhir, masyarakat Bugis juga memiliki adat penyelesaian masalah yang unik bernama Sigajang Laleng Lipa (Bertarung Dalam Sarung).

Insert. Sijagang Laleng Lipa (Bertarung Dalam Sarung) dilakukan.

Sejarah Sijagang Laleng Lipa

Sigajang Laleng Lipa adalah salah satu ritual penting pada masyarakat Sulawesi Selatan yang keberadaannya hampir hilang ditelan zaman.

Ritual ini dilakukan dengan menyatukan dua pria di dalam sebuah sarung. Kedua pria nantinya akan saling bertarung dan adu kekuatan hingga keduanya sama-sama mati atau sama-sama hidup. Jarang dalam ritual ini pihak yang mati atau hidup sendirian.

Musyawarah yang Tidak Menemui Mufakat

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, harga diri adalah hal yang paling penting dari sebuah keluarga. Kalau sampai hal ini diinjak – injak, kedua belah pihak akan mulai mengadakan musyawarah untuk menyelesaikannya. Ketika musyawarah tidak tercapai kata mufakat, maka harus diselesaikan secara satria dengan melakukan pertarungan “Sijagang Laleng Lipa“.

Insert. Musyawarah yang tidak menemui mufakat Sijagang Laleng Lipa dilakukan 

Ini dilakukan sebagai jalan terakhir setelah mufakat tidak juga datang. Dengan melakukan Sijagang Laleng Lipa, kedua belah pihak tidak akan ada dendam lagi. Apa pun yang terjadi pada ritual ini, kedua belah pihak harus sama-sama lapang dada. Tidak ada lagi perseteruan lagi yang menyebabkan keributan di mana-mana.

Jalannya Ritual Sijagang Laleng Lipa

Sijagang Laleng Lipa tidak dilakukan begitu saja tanpa adanya sebuah ritual dan kesepakatan antara dua belah pihak. Setiap keluarga yang saling berseteru akan memilih satu pria terbaiknya. Pria-pria ini adalah jagoan dari keluarga yang akan mengerahkan semua kekuatannya tanpa berniat untuk menyerah.

Dalam pertarungan tersebut,  keduanya akan diberi senjata berupa badik yang memiliki ukuran tertentu. Badik ini adalah warisan keluarga yang sebelumnya telah diberi japa mantera. Menggunakan badik keluarga ini, petarung dalam Sijagang Laleng Lipa akan berusaha sekuat tenaga memenangkan pertarungan dengan dukungan dari keluarga dan juga leluhur.

• Nilai Sosial dan Budaya dalam Sijagang Laleng Lipa.

Kalau dilihat sekilas Sijagang Laleng Lipa adalah ritual pertarungan yang cukup mematikan. Namun, kalau dilihat dengan lebih teliti, ritual ini memiliki makna yang dalam terutama masalah musyawarah dan mufakat. Ritual ini mengajarkan kita agar jangan terus menggunakan ego dalam banyak hal kalau tidak ingin ada korban jiwa.

Saat ini ritual yang berbahaya namun syarat makna ini sudah jarang dilakukan oleh banyak orang. Namun, untuk melestarikannya agar tidak hilang dimakan zaman, pementasan kerap dilakukan dengan atraksi-atraksi yang menarik.

Dalam atraksi Sijagang Laleng Lipa, Bissu berperan besar dalam memberi mantera sebelum pertarungan dilakukan.
Inilah sekilas tentang Sijagang Laleng Lipa yang merupakan ritual pertarungan asli Bugis. Meski terlihat menyeramkan mematikan, ritual ini berperan besar dalam masyarakat agar saling menghargai satu dengan lainnya.

• Miniatur Indonesia menjadi Perekat dan Pemersatu Suku dan Budaya Nusantara

Kota Tangerang Selatan yang disebut-sebut sebagai miniatur dari Indonesia karena adanya migrasi besar-besaran ke kota yang memiliki luas 147.19 kilometer persegi ini, dihuni berbagai ragam etnis dengan budayanya masing-masing.

Keragaman masyarakat yang tinggal di Kota Tangerang Selatan yang dikenal dengan Cerdas, Modren, Religius,
dikarenakan Kota ini mengalami perkembangan yang demikian maju dan para rantau merasa nyaman untuk berusaha dan tinggal di Kota Tangerang Selatan.

Memperhatikan kerasnya pengaruh seni dan budaya asing masuk ke Indonesia maka sudah selayaknya kota Tangerang Selatan sebagai mini Indonesia bisa mengangkat seni budaya tradisi yang ada, salah satunya adalah budaya Sijagang Laleng Lipa dari Sulawesi Selatan yang dapat dimodifikasi menjadi tontonan budaya yang memiliki nilai-nilai pembelajaran kepada para generasi muda kita. Dan lebih menarik dapat menjadi salah satu kegiatan pariwisata Kota Tangerang Selatan kedepan.

Seni dan budaya Sijagang Laleng Lipa“, ini bisa memberikan pembelajaran akan ketegasan dan komitmen dalam mengambil sikap. Dengan majunya perkembngan jaman,  seni bidaya ini dapat dimodifikasi lebih bersifat pertunjukkan budaya dengan tujuan menjaga kelestarian nilai – nilai budaya bangsa Indonesia.

Jelas banyak hikmah dan pembelajaran yang dapat dipetik dari pertarungan tersebut dengan memodifikasi unsur seni budaya tersebut.
Selain itu, budaya ini merupakan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang patut untuk dikembangkan dan dilestarikan sehingga tidak terkikis derasnya budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Karena itu, sejarah merupakan bagian dari seni budaya, demikian halnya “ Sijagang Laleng Lipa “ dapat dikembangkan di Kota Tangerang Selatan, karena banyak masyarakat Bugis tinggal dan menetap di kota Tangerang Selatan ini.

Ada pembelajaran yang dapat dipetik dari isi dan nilai budaya ini yang sudah diciptakan para leluhur kita, bahkan dapat diadopsi untuk membangun nilai – nilai moral, juga membangun sikap-sikap sportifitas tinggi dalam memperjuangkan kepentingan yang di yakini haknya dalam kebenaran.

Melalui tulisan ini, saya mengharapkan dapat menggugah dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia   untuk lebih menghargai dan menjaga kelestarian seni dan budaya tradisi asli Nusantara yng merupakan kekayaaan Bangsa Indonesia.  (vr5/* Lingga)

Check Also

Pendampingan Operasi Pendisiplinam Prokes Di Pintu Masuk Kec Essang Oleh Babinsa

Talaud,  viralreporter5.com | Bertempat di Posko Covid-19 Kecamatan Essang, kab kepl Talaud, telah dilaksanakan operasi …